Zaglossus (Ekidna moncong panjang) berasal dari bahasa Latin, yakni “za” yang berarti besar dan “glossus” yang berarti lidah. Zaglossus pertama kali menarik perhatian ilmuwan Eropa ketika seorang pedagang dan sejarawan alam Belanda, A.A. Bruijn, mengirim tengkorak (tanpa rahang bawah) asal Pegunungan Arfak, Papua Barat. Tengkorak itu dikirim ke Italia dan kemudian dideskripsikan oleh Peters dan Doria pada tahun 1876. Mereka menamakan penemuan ekidna baru yang luar biasa ini sebagai Tachyglossus bruijni, tetapi terdapat revisi nama genus oleh Gill pada tahun 1877 menjadi Zaglossus. Sehingga nama ilmiah yang dipakai hingga saat ini adalah Zaglossus bruijnii. Spesies ini menjadi spesimen tipe untuk genus Zaglossus.

Zaglossus pertama kali diperkirakan muncul pada zaman Pleistocene – Holocene, sekitar 1.8 juta tahun yang lalu. Semenjak itu, genus ini berkembang dan mengalami spesiasi. Sampai dengan saat ini, terdapat tiga spesies ekidna moncong panjang yang masih hidup, yaitu Zaglossus bruijnii, Z. attenboroughi, dan Z. bartoni. Bersama dengan platipus, ketiga spesies tersebut dalam pohon filogeni menempati garis paling tua atau primitif dari mamalia. Ketiga spesies Zaglossus yang hidup tersebut hanya diketahui berasal dari New Guinea dan beberapa pulau kecil di sekitarnya, meskipun terdapat spekulasi bahwa terdapat sisa populasi ekidna moncong panjang barat (Z. bruijnii) di wilayah Kimberley, Australia Barat. Ketiga ekidna moncong panjang tersebut terancam dan hanya ada sedikit informasi tentang informasi ataupun status populasi mereka. Oleh karena itu, dalam membuat strategi konservasi dan penyelamatan ekidna moncong panjang menjadi tantangan besar.

Ekidna moncong panjang terancam oleh perburuan tradisional seperti dengan jebakan jerat dan anjing pemburu, yang sebelumnya sudah dilakukan secara turun temurun di seluruh Papua. Namun dalam dekade terakhir ini, penggunaan senjata modern dan hilangnya habitat sebagai akibat dari penebangan, pertanian, perkebunan industri, dan pertambangan menjadi faktor ancaman terhadap kelestarian ekidna.
International Union for Conservation of Nature and Natural Resources atau yang biasa kita sebut sebagai IUCN menetapkan status konservasi untuk jenis Zaglossus bruijnii dan Z. attenboroughi sebagai sangat terancam punah (Critically Endangered-CR), sedangkan Zaglossus bartoni sebagai spesies yang Rentan (Vulnerable-VU) mengalami kepunahan. Konvensi internasional yang mengatur perdagangan spesies terancam punah (CITES) mengkategorikan spesies Zaglossus bruijnii ke dalam Appendix II. Hal tersebut berarti perdagangan internasional terkait jenis ini sangat ketat dan diatur oleh pemerintah dunia. Selain itu, Pemerintah Indonesia telah menetapkan spesies ini sebagai spesies yang dilindungi berdasarkan P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Berdasarkan kategori the EDGE of Existence programme (Evolutionarily Distinct and Globally Endangered) yang dipropori oleh Zoological Society of London, Zaglossus bruijnii bersama dengan Z. attenboroughi memiliki skor EDGE paling tinggi di antara para mamalia lain yang ada di seluruh dunia, yakni 6,63. Hal tersebut menggambarkan bahwa kedua spesies ini merupakan mamalia yang paling unik (berbeda atau primitif) dari mamalia lainnya dan paling terancam mengalami kepunahan, sehingga spesies ini spesies menjadi prioritas untuk dilakukan kegiatan konservasi. Zaglossus bruijnii tersebar hanya di daerah Papua Barat (endemik) dengan jumlah populasi di alam belum diketahui secara konkrit, namun yang pasti tren populasi terus mengalami penurunan. Oleh karena itu pada tahun 2022, spesies Zaglossus bruijnii menjadi salah satu spesies prioritas Balai Besar KSDA Papua Barat.

Penulis: Reza Saputra (PEH Balai Besar KSDA Papua Barat)